Rabu, 24 Juni 2015

parameter kualitas air ciwaka



(water Quality Parameter in ciwaka)
Dina Solihah1*, Eriyanto2, Suherti3
1 Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Jl. Raya Jakarta Km 4, Kampus Untirta Serang Banten
Telp (0254) 280706, ext 129. Fax (0254) 280706
*Korespondensi: dinasolihah@yahoo.com
2 Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Jl. Raya Jakarta Km 4, Kampus Untirta Serang Banten
Diterima:       / Disetujui :
ABSTRAK
Waduk Ciwaka merupakan waduk yang difungsikan sebagai sumber air untuk tempat rekreasi maupun sebagai cadangan air tanah khususnya bagi kedua komplek perumahan TPI dan Graha Walantaka. Waduk Ciwaka yang berada di Kampung Cibetik, Kelurahan Pangampelan, Kecamatan Walantaka, Kota Serang ini juga di jadikan tempat budidaya ikan oleh beberapa masyarkat disekitarnya. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran kualitas air secara fisik, kimia maupun biologi di Waduk Ciwaka sehingga akan diketahui pengaruhnya terhadap ikan yang dibudidayakan. Penelitian dilakukan dengan pengambilan sample satu titik dengan kedalaman yang berbeda sehingga diperoleh data dari tiap parameter yang diujikan.
Kata kunci : Budidaya, Waduk, Parameter berbeda.
ABSTRACT
Ciwaka reservoir is a reservoir which functioned as a source of water for recreation as well as groundwater reserves, especially for both residential complex and Graha Walantaka TPI. Ciwaka reservoirs are located in Kampong Cibetik, Village Pangampelan, District Walantaka, Kota Serang is also made in the fish farming by some of the surrounding community. Research carried out aims to provide an overview of water quality through physical, chemical or biological in Reservoir Ciwaka that will determine its effect on farmed fish. Research carried out by sampling one point with different depths in order to obtain data from each parameter which is tested.
Keywords: Aquaculture, Different parameters, Reservoirs.

Pendahuluan

Waduk memiliki karakterisitik yang relatif sama yaitu memilik sifat milik bersama (common poperty) sehingga semua masyarakat dapat memanafaatkan keberadaanya, namun akan berdampak kurang baik dikabitkan tidak terkendalinya masukan nutrien dan mineral pada badan waduk sehingga akan berdampak pada plasma nutfah yang sangat
bervariasi.(lukman 2013)
Waduk ciwaka merupakan perairan daratan yang cukup penting dalam kegiatan pertanian, peternakan, budidaya ekonomi dan sebagai lokasi wisata yang berada di frovinsi banten. namun ada beberapa yang mesti diperbaiki baik dari kualitas air untuk membantu dalam peningkatan pendapatan masyarakat dibidang budidaya, dan perbaikan tempat dan jalan yang menuju lokasi sehingga akan meningkatkan minat pengunjung yang akan berwisata
Lokasi yang beradap pada titik           koordinat S: 06°.08.937' E: 106°.13.960' disebelah bagian Barat berjarak sejauh ± 12  Km dari pusat Pemerintahan Kota Serang tepatnya di             Kelurahan Pengampelan,
Kecamatan Walantaka, Kota Serang.



Gambar 1 Citra Google Juni 2015
Waduk Ciwaka menerima pemasukan air (inlet) oleh satu sungai kecil dimana lokasinya tepat berada tengah pemukiman sehingga pencemaran oleh limbah keluarga dan nutrien yang terkandung didalamnya mengakibatkan waduk ciwaka kualitas air nya menurun, pemasokan air yang sedikit mengakibatkan waktu tinggal air semakin lama didalam waduk sehingga terjadinya blooming alga yang ditandai dengan warna perairan yang berwarna hijau.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air yang di pengaruhi oeh beberapa factor mulai dari fisik,kimia, dan biologi dan mengetahui beban pencemaran pada perairan Waduk Ciwaka.

Metode Penelitian

Penelitian         ini        dilakukan diwaduk ciwaka dengan    Metode penelitian Deskriptif laboris. Yang terfokus           pada    parameter        fisika, kimia, dan biologi.

Waktu dan Tempat

Pengambilan    sampel penelitian ini dilaksanakan pada 16 Mei 2015 pukul 07.00 s.d. 11.00 WIB di Waduk Ciwaka Kabupaten Serang Provinsi Banten.
setelah pengambilan sampel dan pengujian kualitas air, dengan parameter fisik dan kimia dilanjutkan dengan parameter        biologi             yang diujikan di labolatorium Teknologi dan             Penanganan     Hasil Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Untirta.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan saat penelitian di lapangan adalah seechi disk, paralon berskala sepanjang 2 m, plastik kemasan, kertas pH, kertas label, pisau, saringan kasar, saringan halus, DO meter, ember, botol film, dan spidol permanen dan bahan yang digunakan adalah aquades dan alkohol 70%. Untuk pengamatan di laboratorium alat yang digunakan adalah mikroskop, pipet tetes, kaca objek, dan penggaris.

Hasil dan Pembahasan

Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dengan paramater fisik kimia dan biologi dengan kedalaman yang berbeda diperoleh data sebagai berikut :

Suhu

Pertumbuhan ikan dalam ranah budidaya sangat dipengaruhi oleh suhu. Umumnya dalam  batasbatas tertentu kecepatan pertumbuhan biota meningkat sejalan dengan naiknya suhu air, sedangkan kelangsungan hidup pada ikan bereaksi sebaliknya. Kisaran suhu yang telah diamati pada kedalaman 25 cm menunjukan bahwa suhu mencapai 30.280C ini berarti pertumbuhanr ikan akan sidikit terganggu dan mulai setres  karena kebutuhan O2 yang meningkat yang diakibatkan oleh proses metabolisme yang cepat,  suhu optimum ikan sekitar 28-300C,  ikan termasuk kedalam hewan yang poikilothermic sehingga perubahan suhu sampai dibawah 0.1 ikan dapat merasakannya, sedangkan pada kedalaman 50 cm suhu malah meningkat ini diakibatkan pengambilan sample dilakukan pada waktu yang berbeda.

DO

Jumlah O2 yang dibutuhkan untuk pernapasan biota budidaya tergantung pada ukuran dari ikannya itu sendiri, suhu dan tingkat aktivitas dari ikan itu sendiri, batas minimum O2 yang terlarut dalam air sekitar 3 ppm biasanya ikan akan mengalami kehilangan nafsu makan dan stres namun ada beberapa jenis ikan yang sanggup bertahan  biasnya ikan ini sudah dilengkapi dengan alat bantu seperti labirin pada gurami, sepat. O2 yang terlarut dalam air yang dianggap optimum sekitar 4-10  ppm (M.gufran 2010).  pada saat pengambilan sample pada kedalaman
25 cm DO sekitar 4.4 ppm sedangkan pada kedalaman 50 cm sekitar 8.77 terjadinya perbedaan DO yang terkandung pada perairan bukan hanya dipengaruhi oleh kedalaman tetapi pada saat pengambilana sample dilakukan pada saat tengah hari sehingga plankton melakukan fotosintesis dan mengeluarkan O2 sehingga pada kedalaman 50 cm justru O2 meningkat.

Kecerahan

Kemampuan cahaya untuk menembus perairan dipengaruhi oleh kekeruhan (turbidity) air. Kekeruhan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan, kekeruhan yan diakibatkan oleh zat yang tersuspensi seperti lumpur, senyawa oraganik dan nonorganik serta plankton dan organisme mikroskopik lainnya, padahal sinar yang ditransmisikan ini snagat diperlukan oleh ikan dan plankton yang akan melakukan fotosintesis. Pengamatan yang dilakukan utuk kecerahan lebih kepada menentukan perbedaan kecerahan dengan warna sechidick yang berpareasi, dari pengamatan yang dilakukan di waduk ciwaka ini diperoleh data bahwa perbedaan pola warna pada schidick tidak terlalu berbeda pada hasil pengamatan, kecerahan berkisar 9-10 JTU, tetapi ada satu jenis pola yang memiliki perbedaan yang besar yaitu pola hitam full color nilai kecerahan menunjukan 5.65 JTU.

pH

Dari pengamatan yang telah dilakukn pada kedalaman 25 cm pH sekitar 8.79 ppm berarti periran relatif agak basa, sedangkan pada kedalaman 50 cm pH turun mendekati netral sektar 7.69 ppm. Derajat keasaman atau pH dalam air menunjukan aktifitas ion hidrogen dalam larutan tersebut dan dinyatakan sebagai konsentrasi ion hidrogen (dalam mol per liter) pada suhu tertentu atau dapat ditulis pH = log (H+). Jika pH dalam perairan < 4,5 maka air bersifat racun bagi ikan, sedangkan pH > 9,0 pertumbuhan ikan sangat terhambat. Maka dari itu pH yang diperlukan agar ikan mengalami pertumbuhan yang optimal yaitu 6,5 – 9,0 ( Kordi, 2004). Pada waduk ciwaka menunjukan bahwa kualitas pH yang terkandung masih dalam keadaan yang cuku baik untuk dilakukan pembudidayaan.

4.2  Parameter biologi Benthos

Bentos adalah organisme yang hidup di dasar laut atau sungai baik yang menempel pada pasir maupun lumpur. Beberapa contoh bentos antara lain kerang, bulu babi, bintang laut, cambuk laut, terumbu karang dan lain-lain. Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Selain itu juga proses makan dengan cara filterphider sehingga bahan atau zat yang termakan akan mengendap dalam tubuh bentos tersebut. sehingga Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu. karena hewan bentos terus menerus terbawa oleh air yang kualitasnya berubahubah. bentos juga dapat digunakan sebagai indikator biologis dalam mempelajari ekosistem danau. (Suwondo, 2004). Pada saat melaksanakan pengujian terhadap kualitas fisik kimia perairan ditemukan bentos kijing dengan nama latin (Pilsbryoconcha exilis).
Klasifikasi kijing.
Filum
: Moluska
Kelas
:Bivalvia(Pelecypoda)
Ordo
:Eulamellibranchiata
Sub Ordo
:Integripalliata
Famili
:Unionidae
Genus
:Pilsbryoconcha
Spesies
:Pilsbryoconcha
exilis
plankton yang bernama ilmiah Stage of penaeus

Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan laboratorium yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Waduk Ciwaka merupakan salah satu ekosistem perairan tergenang yang tergolong baik karena mengandung plankton yang berguna sebagai katalisator rantai makanan, dan juga parameter fisika, kimia dan parameter biologi yang lainnya yang berguna untuk keberlangsungan biota yang ada di dalamnya.

Saran

Peran serta pemerintah diharapkan lebih memperhatikan keberadaan waduk ciwaka dengan melaksanakan pengecekan kualitas air dan memperbaiki saluran inlet dan outletnya agar mengurangi kesuburan di danau ciwaka, selain itu sebagai tempat yang dijadikan objek wisata harusnya pemerintah melaksanakan UUD No. 10 tahun 2009 untuk menyelengarkan kepariwisataan, juga mengatur pembangunan kepariwisataan yang komperhensif dan berkelanjutan agar terciptanya daya tarik masyrakat.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Dudung. 1992.            Budidaya Mina            Ayam. Kanisius.
Yogyakarta.
Boyd, C.E. 1979. Water Quality in Warmwater Fish Ponds. Craftmaster Printers, Inc. Alabama.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air            Bagi     Pengelolaan
Sumber       Daya   dan
Lingkungan             Perairan.
Kanisius. Jogjakarta.
Ghufran, M. 2007.       Pengelolaan Kualitas air        dalam Budidaya          Perairan.
Rineka Cipta.
Helfrich, L. A,. 1999. Solutions to
Common Fish Pond Problems. Fisheries
Virginia Tech. Virginia.
Hutabarat, S. 1985. Pengantar
Oseanografi. UI. Jakarta.
Lukman.2013. Danau toba.    Lipi pres. Jakarta.
Marnani, Sri. 2004. Budidaya Ikan. Universitas         Jenderal Soedirman. Purwokerto.
Muslimin, L. W,. 1995. Mikrobiologi
Lingkungan. DIKTI – Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Respati, H. dan B.H. Santoso.1993. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan           Gurami.           Kanisius. Yogyakarta.
Wardoyo. 1981. Kriteria Kualitas Air             Untuk Perikanan Dalam Analisis Dampak Lingkungan.      PPLNPUSDI-IPPSL,             IPB.
Bogor.