(water Quality Parameter in
ciwaka)
Dina Solihah1*, Eriyanto2,
Suherti3
1 Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Jl. Raya Jakarta Km 4, Kampus Untirta
Serang Banten
Telp (0254) 280706, ext 129. Fax (0254)
280706
*Korespondensi: dinasolihah@yahoo.com
2 Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian,
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Diterima: /
Disetujui :
ABSTRAK
Waduk Ciwaka merupakan waduk yang
difungsikan sebagai sumber air untuk tempat rekreasi maupun sebagai cadangan
air tanah khususnya bagi kedua komplek perumahan TPI dan Graha Walantaka. Waduk
Ciwaka yang berada di Kampung Cibetik, Kelurahan Pangampelan, Kecamatan Walantaka,
Kota Serang ini juga di jadikan tempat budidaya ikan oleh beberapa masyarkat
disekitarnya. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk memberikan gambaran
kualitas air secara fisik, kimia maupun biologi di Waduk Ciwaka sehingga akan
diketahui pengaruhnya terhadap ikan yang dibudidayakan. Penelitian dilakukan
dengan pengambilan sample satu titik dengan kedalaman yang berbeda sehingga
diperoleh data dari tiap parameter yang diujikan.
Kata kunci : Budidaya, Waduk, Parameter berbeda.
ABSTRACT
Ciwaka reservoir is a reservoir which
functioned as a source of water for recreation as well as groundwater reserves,
especially for both residential complex and Graha Walantaka TPI. Ciwaka
reservoirs are located in Kampong Cibetik, Village Pangampelan, District
Walantaka, Kota Serang is also made in the fish farming by some of the
surrounding community. Research carried out aims to provide an overview of
water quality through physical, chemical or biological in Reservoir Ciwaka that
will determine its effect on farmed fish. Research carried out by sampling one
point with different depths in order to obtain data from each parameter which
is tested.
Keywords: Aquaculture,
Different parameters, Reservoirs.
Pendahuluan
Waduk memiliki
karakterisitik yang relatif sama yaitu memilik sifat milik bersama (common poperty) sehingga semua
masyarakat dapat memanafaatkan keberadaanya, namun akan berdampak kurang baik
dikabitkan tidak terkendalinya masukan nutrien dan mineral pada badan waduk
sehingga akan berdampak pada plasma nutfah yang sangat
bervariasi.(lukman 2013)
Waduk ciwaka
merupakan perairan daratan yang cukup penting dalam kegiatan pertanian,
peternakan, budidaya ekonomi dan sebagai lokasi wisata yang berada di frovinsi
banten. namun ada beberapa yang mesti diperbaiki baik dari kualitas air untuk
membantu dalam peningkatan pendapatan masyarakat dibidang budidaya, dan
perbaikan tempat dan jalan yang menuju lokasi sehingga akan meningkatkan minat
pengunjung yang akan berwisata
Lokasi yang beradap pada titik koordinat S: 06°.08.937' E: 106°.13.960' disebelah bagian
Barat berjarak sejauh ± 12 Km dari pusat
Pemerintahan Kota Serang tepatnya di Kelurahan Pengampelan,
Kecamatan Walantaka, Kota
Serang.
![]() |
Gambar 1 Citra
Google Juni 2015
Waduk Ciwaka
menerima pemasukan air (inlet) oleh satu sungai kecil dimana lokasinya tepat
berada tengah pemukiman sehingga pencemaran oleh limbah keluarga dan nutrien
yang terkandung didalamnya mengakibatkan waduk ciwaka kualitas air nya menurun,
pemasokan air yang sedikit mengakibatkan waktu tinggal air semakin lama didalam
waduk sehingga terjadinya blooming alga yang ditandai dengan warna perairan
yang berwarna hijau.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui kualitas air yang di pengaruhi oeh beberapa factor mulai dari
fisik,kimia, dan biologi dan mengetahui beban pencemaran pada perairan Waduk
Ciwaka.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan diwaduk ciwaka dengan Metode penelitian Deskriptif laboris. Yang
terfokus pada parameter fisika,
kimia, dan biologi.
Waktu dan Tempat
Pengambilan sampel
penelitian ini dilaksanakan pada 16 Mei 2015 pukul 07.00 s.d. 11.00 WIB di
Waduk Ciwaka Kabupaten Serang Provinsi Banten.
setelah pengambilan sampel dan pengujian kualitas air, dengan
parameter fisik dan kimia dilanjutkan dengan parameter
biologi yang diujikan di labolatorium Teknologi dan Penanganan Hasil Perairan Jurusan
Perikanan Fakultas Pertanian Untirta.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan saat penelitian di
lapangan adalah seechi disk, paralon berskala sepanjang 2 m, plastik kemasan,
kertas pH, kertas label, pisau, saringan kasar, saringan halus, DO meter,
ember, botol film, dan spidol permanen dan bahan yang digunakan adalah aquades
dan alkohol 70%. Untuk pengamatan di laboratorium alat yang digunakan adalah
mikroskop, pipet tetes, kaca objek, dan penggaris.
Hasil dan Pembahasan
Dari hasil
pengamatan yang telah dilakukan dengan paramater fisik kimia dan biologi dengan
kedalaman yang berbeda diperoleh data sebagai berikut :
Suhu
Pertumbuhan ikan
dalam ranah budidaya sangat dipengaruhi oleh suhu. Umumnya dalam batasbatas tertentu kecepatan pertumbuhan
biota meningkat sejalan dengan naiknya suhu air, sedangkan kelangsungan hidup
pada ikan bereaksi sebaliknya. Kisaran suhu yang telah diamati pada kedalaman
25 cm menunjukan bahwa suhu mencapai 30.280C ini berarti
pertumbuhanr ikan akan sidikit terganggu dan mulai setres karena kebutuhan O2 yang meningkat
yang diakibatkan oleh proses metabolisme yang cepat, suhu optimum ikan sekitar 28-300C, ikan termasuk kedalam hewan yang poikilothermic sehingga perubahan suhu
sampai dibawah 0.1 ikan dapat merasakannya, sedangkan pada kedalaman 50 cm suhu
malah meningkat ini diakibatkan pengambilan sample dilakukan pada waktu yang
berbeda.
DO
Jumlah O2
yang dibutuhkan untuk pernapasan biota budidaya tergantung pada ukuran
dari ikannya itu sendiri, suhu dan tingkat aktivitas dari ikan itu sendiri,
batas minimum O2 yang terlarut dalam air sekitar 3 ppm biasanya ikan
akan mengalami kehilangan nafsu makan dan stres namun ada beberapa jenis ikan
yang sanggup bertahan biasnya ikan ini
sudah dilengkapi dengan alat bantu seperti labirin pada gurami, sepat. O2 yang
terlarut dalam air yang dianggap optimum sekitar 4-10 ppm (M.gufran 2010). pada saat pengambilan sample pada kedalaman
25 cm DO sekitar 4.4 ppm sedangkan pada kedalaman 50 cm
sekitar 8.77 terjadinya perbedaan DO yang terkandung pada perairan bukan hanya
dipengaruhi oleh kedalaman tetapi pada saat pengambilana sample dilakukan pada
saat tengah hari sehingga plankton melakukan fotosintesis dan mengeluarkan O2
sehingga pada kedalaman 50 cm justru O2 meningkat.
Kecerahan
Kemampuan cahaya
untuk menembus perairan dipengaruhi oleh kekeruhan (turbidity) air. Kekeruhan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan
ikan, kekeruhan yan diakibatkan oleh zat yang tersuspensi seperti lumpur,
senyawa oraganik dan nonorganik serta plankton dan organisme mikroskopik
lainnya, padahal sinar yang ditransmisikan ini snagat diperlukan oleh ikan dan
plankton yang akan melakukan fotosintesis. Pengamatan yang dilakukan utuk
kecerahan lebih kepada menentukan perbedaan kecerahan dengan warna sechidick
yang berpareasi, dari pengamatan yang dilakukan di waduk ciwaka ini diperoleh
data bahwa perbedaan pola warna pada schidick tidak terlalu berbeda pada hasil
pengamatan, kecerahan berkisar 9-10 JTU, tetapi ada satu jenis pola yang memiliki
perbedaan yang besar yaitu pola hitam full color nilai kecerahan menunjukan
5.65 JTU.
pH
Dari pengamatan yang telah dilakukn pada
kedalaman 25 cm pH sekitar 8.79 ppm berarti periran relatif agak basa,
sedangkan pada kedalaman 50 cm pH turun mendekati netral sektar 7.69 ppm.
Derajat keasaman atau pH dalam air menunjukan aktifitas ion hidrogen dalam
larutan tersebut dan dinyatakan sebagai konsentrasi ion hidrogen (dalam mol per
liter) pada suhu tertentu atau dapat ditulis pH = log (H+). Jika pH
dalam perairan < 4,5 maka air bersifat racun bagi ikan, sedangkan pH >
9,0 pertumbuhan ikan sangat terhambat. Maka dari itu pH yang diperlukan agar
ikan mengalami pertumbuhan yang optimal yaitu 6,5 – 9,0 ( Kordi, 2004). Pada
waduk ciwaka menunjukan bahwa kualitas pH yang terkandung masih dalam keadaan
yang cuku baik untuk dilakukan pembudidayaan.
4.2 Parameter biologi Benthos
Bentos adalah
organisme yang hidup di dasar laut atau sungai baik yang menempel pada pasir
maupun lumpur. Beberapa contoh bentos antara lain kerang, bulu babi, bintang
laut, cambuk laut, terumbu karang dan lain-lain. Hewan bentos hidup relatif
menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena
selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Selain itu juga proses makan
dengan cara filterphider sehingga bahan atau zat yang termakan akan mengendap
dalam tubuh bentos tersebut. sehingga Kelompok hewan tersebut dapat lebih
mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu.
karena hewan bentos terus menerus terbawa oleh air yang kualitasnya
berubahubah. bentos juga dapat digunakan sebagai indikator biologis dalam
mempelajari ekosistem danau. (Suwondo, 2004). Pada saat melaksanakan pengujian
terhadap kualitas fisik kimia perairan ditemukan bentos kijing dengan nama
latin (Pilsbryoconcha exilis).
Klasifikasi kijing.
|
Filum
|
: Moluska
|
|
Kelas
|
:Bivalvia(Pelecypoda)
|
|
Ordo
|
:Eulamellibranchiata
|
|
Sub Ordo
|
:Integripalliata
|
|
Famili
|
:Unionidae
|
|
Genus
|
:Pilsbryoconcha
|
|
Spesies
|
:Pilsbryoconcha
|
exilis
plankton yang
bernama ilmiah Stage of penaeus

Kesimpulan
Berdasarkan
pengamatan laboratorium yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Waduk
Ciwaka merupakan salah satu ekosistem perairan tergenang yang tergolong baik
karena mengandung plankton yang berguna sebagai katalisator rantai makanan, dan
juga parameter fisika, kimia dan parameter biologi yang lainnya yang berguna
untuk keberlangsungan biota yang ada di dalamnya.
Saran
Peran serta
pemerintah diharapkan lebih memperhatikan keberadaan waduk ciwaka dengan
melaksanakan pengecekan kualitas air dan memperbaiki saluran inlet dan
outletnya agar mengurangi kesuburan di danau ciwaka, selain itu sebagai tempat
yang dijadikan objek wisata harusnya pemerintah melaksanakan UUD No. 10 tahun
2009 untuk menyelengarkan kepariwisataan, juga mengatur pembangunan kepariwisataan
yang komperhensif dan berkelanjutan agar terciptanya daya tarik masyrakat.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul,
Dudung. 1992. Budidaya Mina Ayam. Kanisius.
Yogyakarta.
Boyd, C.E.
1979. Water Quality in Warmwater Fish
Ponds. Craftmaster Printers, Inc. Alabama.
Effendi,
H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan
Sumber Daya
dan
Lingkungan Perairan.
Kanisius.
Jogjakarta.
Ghufran, M. 2007. Pengelolaan Kualitas air dalam Budidaya Perairan.
Rineka Cipta.
Helfrich, L. A,. 1999. Solutions to
Common Fish Pond Problems. Fisheries
Virginia Tech.
Virginia.
Hutabarat, S. 1985. Pengantar
Oseanografi. UI. Jakarta.
Lukman.2013. Danau
toba. Lipi pres. Jakarta.
Marnani, Sri. 2004. Budidaya
Ikan. Universitas Jenderal
Soedirman. Purwokerto.
Muslimin, L. W,. 1995. Mikrobiologi
Lingkungan.
DIKTI – Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Respati, H. dan B.H. Santoso.1993. Petunjuk Praktis Budidaya Ikan Gurami. Kanisius. Yogyakarta.
Wardoyo.
1981. Kriteria Kualitas Air Untuk Perikanan Dalam Analisis Dampak Lingkungan. PPLNPUSDI-IPPSL, IPB.
Bogor.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar